Apa yang membuat seseorang itu timbangan kebaikannya begitu berat di akhirat kelak? Tentang ini, Nabi Muhammad saw mengabarkan, “Tidak ada sesuatu pun yang lebih berat dalam timbangan seorang mukmin selain akhlak yang baik.” (HR. Abu Dawud).
Abdullah bin Mubarak, ulama asal Khurasan (118 H -181 H) pernah ditanya apa itu akhlak yang baik, “Wajah yang berseri-seri (ramah), gemar melakukan kebaikan dan menahan diri dari mengganggu orang lain.”
Akan Jadi Pahala Mengalir Setelah Orangtua/Guru Wafat
Dalam dunia pendidikan, para guru dan orangtua punya kewajiban untuk memberi teladan yang baik kepada anak didik. Karena, akhlak butuh dijelaskan sekaligus dicontohkan.
Akhlak bukanlah sebuah teori tanpa praktik. Akhlak tidak lahir di ruang hampa. Dia menjadi menjadi perilaku dan menjadi kebiasaan. Dan semua itu dimulai dari para guru dan orangtua.
Jika anak-anak telah terbiasa meniru yang baik di masa hidupnya, insya Allah itu menjadi pahala yang terus mengalir kepada guru dan orangtuanya yang telah memberi teladan.
“Jika anak Adam telah meninggal dunia, maka terputuslah amalnya kecuali tiga hal: shadaqah yang manfaatnya terus-menerus, ilmu yang terus diambil faidahnya dan doa anak shalih yang mendoakannya.” (HR. Muslim).
Kini, tugas para pendidik untuk melatih kebiasaan baik ini kepada anak-anak. Bagaimana memperagakan akhlak yang mulia secara kontinu di hadapan generasi penerus.
- Berwajah menyenangkan
Mengapa harus menjadi pribadi yang ramah? Karena ini termasuk sedekah dan menjadi pahala. Bukankah Rasulullah saw menjelaskan.
Senyum di wajahmu kepada saudaramu (muslim) adalah shadaqah.” (HR. Tirmidzi).
Ini adalah sedekah paling murah dan paling mudah. Tanpa berkurang uang atau barang. Tanpa modal.
Namun ini harus dilatih. Karena, wajah yang berseri itu bukan hasil sulap atau hasil spontan. Senyum di wajah secara tulus adalah wujud dari kebersihan hati.
Isi yang yang akan mengeluarkan sesuatu yang baik pula. Teko berisi kopi akan mengeluarkan kopi, isi air putih pasti mengeluarkan air putih.
Darimana Asalnya Senyum Yang Tulus?
Hati yang bersih dimulai dari rutin berzikir di lisan dan di dalam hati. Bersih dari dosa karena rajin beristigfar dan memperbarui tobat. Tiap hari, seorang muslim dianjurkan memohon ampun kepada Allah.
Nabi beristigfar 70 kali hingga 100 kali dalam sehari, padahal beliau sudah dijamin diampuni kesalahannya di masa lalu dan akan datang. Nah, apalagi kita yang belum dijamin ampunan Allah. Maka, membersihkan hati dengan istigfar dan rutin memperbarui tobat tiap pagi dan petang.
Untuk siswa, ada latihan di sekolah dengan menjadi petugas di depan pintu kelas atau depan pintu pagar. Yang mendapat piket, dia bertugas menyambut dengan salam dan wajah ceria rekannya yang baru datang. Ini untuk melatih bagaimana berwajah ceria dan murah senyum.
- Gemar membantu orang sekitarnya
Ciri kedua akhlak mulia adalah gemar menolong orang terdekatnya. Akhlak ini haru dilatih sejak dini.
Di sekolah bisa dengan membantu tugas piket kebersihan dan piket di waktu makan bersama untuk merapikan meja makan/kantin.
Ananda juga musti dilatih untuk mengamati keadaan yang tidak pada tempatnya, misalnya sepatu/sandal yang tidak rapi, piket ketertiban (menegur dengan cara yang sopan terhadap teman yang bercanda saat zikir pascashalat, saat doa bersama, saat berwudhu, dst).
- Menahan diri dari berbuat buruk
Ternyata akhlak mulia paling mendasar adalah tidak mengganggu orang lain. Bisa saja di sekolah ada potensi bully terhadap sesama murid. Tapi, jika seorang siswa menahan diri tidak ikut-ikutan hal buruk, sudah merupakan kemenangan akhlak.
Ketika ada siswa gampang saja membuang sampah sembarangan sedangkan kita menahan diri dari hal demikian, itupun akhlak yang mulia.
Bahkan salah satu ciri utama baiknya agama seseorang: salah satu tanda baiknya Islam seseorang adalah meninggalkan sesuatu yang tidak bermanfaat baginya.” (HR. Tirmidzi).
Kesabaran berbulan bahkan bertahun-tahun
Biasanya gampang membuang sampah sembarangan karena jauh dari bak sampah. Nah akhlak yang mulia, akan menyimpan sampah itu sementara (bisa di saku baju atau tas), nantinya dibuang ketika sudah dekat bak sampah.
Perilaku seperti ini membutuhkan teladan yang baik dari guru dan ayah ibu di rumah. Dan ini membutuhkan waktu berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun agar menjadi akhlak yang melekat pada diri seorang muslim. Inilah di antara makna sabar yang hakiki.
Baca juga: Yuk Mulai Hal Baik dan Menjadikannya Kebiasaan
Penulis: Oki Aryono